
Di Manakah Mata dan Hati Kita?
Ada sebuah pesan singkat yang sangat indah yang ditulis oleh Imam Al Ghazali dalam kitabnya, Bidayatul Hidayah.
Beliau berkata:
Ketahuilah bahwa perintah-perintah Allah itu ada dua, yaitu wajib dan sunnah. Wajib adalah modal yang dengannya kita memulai bisnis sehingga kita memperoleh keselamatan. Sedangkan sunnah adalah profit yang dengannya derajat seseorang akan naik. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda dalam hadits Qudsi, “Tiadalah seorang hamba yang mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan yang lebih Aku cintai daripada amalan-amalan wajib. Selama hamba itu melakukan amalan sunnah, Aku akan selalu mencintainya. Ketika Aku mencintainya maka Aku akan menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar, penglihatannya yang dengannya ia melihat, lidahnya yang dengannya ia berbicara, tangannya yang dengannya ia memegang dan kakinya yang dengannya ia melangkah”.
Lalu beliau melanjutkan:
Dan engkau, wahai seorang murid, sungguh takkan pernah sampai pada derajat orang-orang yang selalu melaksanakan perintah-perintahNya sampai engkau selalu mengawasi hatimu dan anggota tubuhmu di setiap detik dan desah nafasmu sejak pagi hingga petang.
Ketahuilah bahwasannya Allah Subhanahu Wa Ta'ala selalu mengawasi isi hatimu. Dia selalu memperhatikan luar dan dalam tubuhmu. Dia selalu meliputi seluruh waktumu dan setiap detak jantungmu, diammu dan gerakmu. Baik dalam keadaan sepi maupun ramai, dirimu selalu berada di antara dua genggaman tanganNya. Kau takkan pernah bisa lari dariNya. Tak sesuatupun di alam ini yang sanggup diam ataupun bergerak tanpa pengawasanNya.
Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati. (QS. Ghafir: 19)
Sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi. (QS. Thaha: 7)
Oleh karena itu, bersikap sopanlah wahai orang miskin di depan Tuhanmu. Beradablah secara lahir dan batin seperti beradabnya seorang budak yang hina di depan tuannya yang mulia.
Berusahalah agar Dia tidak menjumpaimu dalam keadaan bermaksiat. Dan berusahalah agar Dia tidak kehilangan dirimu saat Dia menyuruhmu. Dan engkau takkan sanggup melakukan itu kecuali engkau harus membagi waktumu dan merapikan wiridmu sejak pagi hingga sore. Segeralah bangkit menyambut perintah Tuhanmu sejak kau membuka matamu di pagi hari hingga ia terpejam lagi di tempat pembaringanmu.
Demikianlah cuplikan pesan beliau yang kembali mengingatkan kita tentang hakikat hidup kita di dunia ini yang tak lebih dari seorang budak hina yang harus taat pada majikannya. Allah yang selalu bersama kita selalu mengawasi setiap gerak-gerik dan langkah kita.
Terkadang seseorang merasa aman ketika melakukan maksiat di tempat yang sepi atau tersembunyi dari pandangan manusia. Padahal sebenarnya dia tidak sadar bahwa Dzat yang Maha Mengawasi dan Maha Melihat sedang mengawasi dan melihat dirinya melakukan kemaksiatan itu. Dengan perasaan ringan dan tanpa beban ia melakukan dosa-dosa di tempat yang menurutnya sudah aman. Padahal tak ada tempat yang “aman” dan tersembunyi bagi Allah. Semuanya tampak, semuanya jelas di mata Allah. Bahkan bisikan hati yang terlintas di benak kita, Allah pun mendengarnya.
Oleh karena itu, tidak selayaknya seorang muslim berkhianat kepada Allah, baik dalam keadaan sendiri maupun di tengah keramaian. Karena percuma saja dia berkhianat, toh Allah tetap akan mengetahuinya. Percuma saja dia bersembunyi dari pandangan seluruh makhluk jika pandangan Sang Pencipta selalu melihat dan memperhatikannya. Bahkan perasaan “aman” yan dirasakan seseorang ketika melakukan dosa dalam kesendirian itulah yang menyebabkan dirinya terjatuh pada kesyirikan, karena ia menganggap bahwa pandangan makhluk lebih berhak diperhatikan daripada pandangan Sang Khalik. Ia merasa malu jika dosanya diketahui makhluk tapi justru ia tak punya rasa malu di depan Tuhannya. Na’udzubillahi min dzalik.
Semoga Allah selalu menjaga hati dan pandangan kita dari khianat. Dalam surat Ghafir di atas, Allah sengaja menyebutkan hati dan mata karena kedua organ itulah yang paling sering melakukan khianat. Beruntunglah bagi mereka yang selalu menjaga hati dan mata mereka dari khianat sekecil apapun. Bahkan di antara manusia ada segolongan orang yang tidak sempat berkhianat karena disibukkan dengan ibadah kepada Allah. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, “Tiga mata yang takkan pernah tersentuh api neraka: yaitu mata yang berjaga di malam hari karena ribath di jalan Allah, mata yang menitiskan air mata karena takut kepada Allah dan mata yang tidak melihat apa yang diharamkan Allah” (HR. Thabrani dan Ibnu Asakir).
Lalu pertanyaannya, di manakah mata dan hati kita?
D-01022009

No comments:
Post a Comment