Sunday, February 8, 2009

Bertanam Niat




Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, “Setiap amalan tergantung pada niat, dan setiap orang akan dibalas sesuai dengan niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Niat adalah tekad dan keinginan hati untuk melakukan sesuatu atau meninggalkannya. Ibnul Qayyim berkata, “Niat merupakan inti, pilar, dan pondasi segala urusan. Setiap perkara dibangun di atas niat. Niat adalah nyawa dari setiap perbuatan. Niat pula yang menjadi pengarah dan pemandu amalan, sementara amalan mengikutinya. Suatu amalan akan menjadi sah jika diawali dengan niat. Sebaliknya, tanpa niat amalan takkan diterima. Dengan niat, seseorang akan mendapatkan bimbingan dari Allah. Tanpa niat, seseorang hanya akan memperoleh kesia-siaan. Niatlah yang menjadikan derajat manusia bertingkat-tingkat, baik di dunia maupun di akhirat.” (1)

Seorang muslim senantiasa memperhatikan niatnya dalam setiap amalan yang ia lakukan. Bahkan meskipun tak tercapai, namun ketika niat untuk melakukan amalan itu benar-benar ada, maka telah tercatat di sisi Allah sebagai suatu amalan. Ini merupakan anugerah yang amat besar yang diberikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala kepada hambaNya yang beriman. Seorang muslim dapat memperbanyak niat untuk melakukan amal kebaikan yang dapat mendatangkan keridhoan Allah. Dengan itu, ia berarti telah memiliki simpanan pahala yang amat besar berkat niatnya. Tentunya dengan syarat bahwa ia berusaha dengan sungguh-sungguh akan melakukan apa yang diniatkannya tersebut semampunya.

Abu Shofwan berkata, “Tubuh manusia tak pernah lelah untuk berniat” (2). Ya, karena niat adalah amalan hati sehingga tidak memerlukan tenaga yang banyak untuk melakukannya. Setiap saat seseorang dapat berniat melakukan kebaikan sebanyak-banyaknya.

Suatu hari, Abdullah putra Imam Ahmad bin Hanbal bertanya kepada ayahnya, “Wahai ayah, berilah aku wasiat”. Imam Ahmad menjawab, “Wahai anakku, jangan pernah berhenti berniat melakukan kebaikan, karena sesungguhnya engkau akan senantiasa berada dalam kebaikan selama engkau berniat melakukannya” (3).

Ibrahim An Nakha’i berkata, “Tidak pernah sekali pun Abdurrahman bin Yazid An Nakha’i (salah seorang tabi’i) melakukan suatu amalan kecuali selalu disertai dengan niat. Bahkan ketika dia minum air pun dengan niat” (4).

Namun, sebagaimana niat yang baik dapat mendatangkan pahala, maka niat yang buruk pun dapat mengakibatkan dosa. Seseorang yang memiliki niat buruk maka akan dihisab niatnya meskipun ia tak jadi melakukan apa yang diniatkannya, jika dia meninggalkan perbuatan tersebut bukan karena takut kepada Allah, (misalnya karena tidak mampu melakukannya, atau malu jika ketahuan, atau takut jika terlihat orang, atau tidak memiliki sarana untuk melakukannya dan lain sebagainya). Adapun jika ia telah berniat melakukan keburukan lalu meninggalkannya hanya karena Allah, maka ia tidak berdosa, bahkan mendapatkan pahala karena meninggalkan perbuatan buruk tersebut.

Yusuf bin Asbath berkata: “Bagi seseorang yang sedang beramal, mengikhlaskan niat dan menjaganya agar tidak rusak, jauh lebih sulit dilakukan daripada melakukan amalan itu sendiri”. Sufyan Ats Tsauri berkata, “Aku belum pernah menemukan perkara yang lebih sulit daripada menangani masalah niat, karena ia selalu berbolak-balik”. Seseorang pernah bertanya kepada Nafi’ bin Jubair, “Mengapa engkau tidak ikut mengantarkan jenazah?”. Beliau menjawab, “Tunggu sebentar sampai aku mengatur niatku”. Setelah itu beliau berdiam diri sejenak lalu berkata, “Ayo berangkat” (5). Masih banyak lagi
contoh-contoh dari para Salaf tentang pentingnya memelihara niat serta menjaganya agar senantiasa dalam keikhlasan.


Tak ada lagi alasan bagi kita untuk tidak berniat melakukan kebaikan meskipun kita tidak yakin bisa melakukan kebaikan itu. Bahkan dalam beberapa hal, niat menjadi sebuah kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap muslim. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, “Barangsiapa mati, sedang ia tidak pernah berperang dan tidak mempunyai keinginan untuk berperang, ia mati dalam satu cabang kemunafikan.” (Muttafaq 'Alaihi).

Oleh karena itu, marilah sejak saat ini kita mulai menanam bibit-bibit kebaikan yang dapat menghasilkan pahala di sisi Allah dengan menanamkan niat dalam hati kita. Wallahu A'lamu bis Showab.



Catatan kaki:

1 Ibnul Qayyim, I’lamul Muwaqqi’in: 4/199
2 Abu Nu’aim, Hilyatul Awliya’: 7/54
3 Ibnul Jauzi, Manaqib Imam Ahmad, hal 200
4 Ahmad bin Hanbal, Al ‘Ilal wa Ma’rifat Ar Rijal: 1/73
5 Ibnu Rajab Al Hanbali, Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, hal. 9 dari kitab Al Ikhlash wan Niyyah, Ibnu Abid Dunya.

No comments: